Pernahkah kau merasakan bagaimana jatuh cinta dengan perempuan yang membaca? Cintailah perempuan yang membaca, yaitu perempuan dengan penuh imajinasi dalam pikirannya. Tunjukkan kepadanya bahwa fantasinya tentang lelaki sempurna dalam buku-buku yang ia baca itu benar-benar ada.
Kau tahu bagaimana membahagiakan perempuan yang membaca? Bahagiakan dia dengan menghadiahinya buku yang belum pernah ia baca pada saat hari istimewanya. Dengarkan dia bercerita tentang buku yang baru saja dibacanya, tentang penulis favoritnya. Beri dia secangkir teh hangat di depannya ketika ia sedang sibuk membaca. Mungkin ia akan meminumnya pada saat teh hangat itu tidak hangat lagi, namun ia menyukai perlakuanmu yang menganggapnya istimewa.
Kau sudah pernah dibahagiakan oleh perempuan yang membaca? Perempuan yang membaca selalu penuh kejutan. Pada hari istimewamu, mungkin ia akan membaca sepanjang hari dan membuatmu merasa terlupakan. Namun, kau tahu? Di sela-sela ia membaca, ia menyiapkan makan malam untukmu. Membuatmu tersenyum dan merasa dicintai.
Perempuan yang membaca akan setia kepadamu. Dia ingin mewujudkan akhir yang bahagia seperti pada buku-buku yang ia baca, dan mewujudkannya bersamamu. Perempuan yang membaca tidak menuntut apa-apa kepadamu. Hanya menginginkanmu berada di sampingnya, menjadi tempat bersandar yang nyaman baginya ketika ia membaca, hingga terlelap di dekapanmu dengan buku di pelukannya.
Cintailah perempuan yang membaca. Kau bahkan bisa tahu isi hatinya dengan melihat buku yang dibacanya.
Jika ia sudah pergi nanti, susunlah buku-bukunya di rak dengan rapi. Dia akan tersenyum bahagia melihatmu melakukannya.
-AAz-
Sunday, 13 April 2014
Thursday, 20 February 2014
Hujan di Pertengahan September
Hujan, dan setiap
rintiknya yang masih menyimpan namamu..
“Hari ini hujan turun, Lelakiku. Semua masih sama, hanya saja… tidak ada kau.”
Perempuan itu berkata di depan lelakinya.
“Hari ini 15 September.
Pertama kali kita bertemu, di bawah hujan.” Kata perempuan itu
lagi. Tetapi, lelakinya tetap diam.
“Kenangan tentangmu tersimpan rapi, Lelakiku. Di sini.” Kata perempuan itu seraya menunjuk
dadanya.
Hujan, dan aroma tanah
setelahnya yang mengingatkanku akan hangatnya pelukmu..
“Aku menitip rindu untukmu pada hembusan angin,
Lelakiku. Dibisikkannyakah
kepadamu? Semoga saja.” Perempuan itu
masih berbicara di depan lelakinya, walau hujan deras mendera dan lelakinya
masih diam.
“Aku mencintaimu. Aku
mencintai kenangan tentang September.
Tentang hujan. Tentangmu.” Perempuan
itu menangis di depan lelakinya—di depan pusara lelakinya. Perempuan itu beranjak menjauh, di tengah
hujan.
Monday, 17 February 2014
Waktu
Waktu
Pernah kau dengar nama itu?
Tidak asing pastinya
Tetapi, butuh orang yang benar-benar kehilangan untuk
berurusan dengannya
Sekejam inikah tugas Sang Waktu?
Merampas kenangan-kenangan manis,
Menggoreskan luka di jiwa yang sepi
Semua tentang waktu
Semua tentang bagaimana kau menghargai kisah-kisah yang
tercipta olehnya
Semua tentang bagaimana kau merelakan kisah yang
dijadikannya kenangan
Semua yang muncul karenanya adalah apa yang akan
dilenyapkannya
Waktu
Dialah alasan di balik semuanya
Suka, duka, kehilangan, kesepian
Jatuh cinta, patah hati
Gundah, damai
Kau
hanya perlu mempelajari rasa apa lagi yang akan dihadirkannya untukmu esok-AAz-
Tuesday, 28 January 2014
Semua Masih Di Sini
Di antara hari-hari yang terlewati tanpa hadirmu
sebenarnya masih ada bayangan tentang kita
Di antara luka-luka hati yang belum kering
sebenarnya masih ada rindu yang selalu tertuju pada hatimu
Di antara kenangan-kenangan yang hidup di kepalaku
sebenarnya begitu banyak yang telah mati, namun kuharapkan untuk bersemi kembali
Di antara rinai hujan yang mengetuk jendela kamarku
sebenarnya masih ada bisikan untuk kembali padamu
namun, aku tahu takdir kita belum menemukan kemungkinan untuk beriringan lagi
Di antara gelas-gelas kopi yang menemaniku
sebenarnya jejak kepergianmu masih jelas kuingat
dan selalu begitu
Di antara senja-senja yang menggelap
sebenarnya masih terpatri cahaya kedua bola matamu
mata yang selalu menatapku cerah
tatapan yang akan selalu kurindukan
Sebenarnya, semua masih di sini
Hanya saja, tanpamu mereka mati
-AAz-
sebenarnya masih ada bayangan tentang kita
Di antara luka-luka hati yang belum kering
sebenarnya masih ada rindu yang selalu tertuju pada hatimu
Di antara kenangan-kenangan yang hidup di kepalaku
sebenarnya begitu banyak yang telah mati, namun kuharapkan untuk bersemi kembali
Di antara rinai hujan yang mengetuk jendela kamarku
sebenarnya masih ada bisikan untuk kembali padamu
namun, aku tahu takdir kita belum menemukan kemungkinan untuk beriringan lagi
Di antara gelas-gelas kopi yang menemaniku
sebenarnya jejak kepergianmu masih jelas kuingat
dan selalu begitu
Di antara senja-senja yang menggelap
sebenarnya masih terpatri cahaya kedua bola matamu
mata yang selalu menatapku cerah
tatapan yang akan selalu kurindukan
Sebenarnya, semua masih di sini
Hanya saja, tanpamu mereka mati
-AAz-
Tuesday, 7 January 2014
Ini Senja Kita
Kala itu, kau bertanya kepadaku,”mana yang kau sukai, fajar
atau senja?” aku memandang jemariku yang berada di genggamanmu. “senja. Aku suka senja.”, jawabku. Kau melirik jam di pergelangan tanganmu. “waktu
yang tepat. Maukah kau tinggal disini
sebentar lagi untuk menyaksikan matahari kembali ke peraduannya?” aku tersenyum
senang. “tentu saja.” Lalu kau
mengajakku duduk di atas pasir putih. “mengapa
kau menyukai senja?”, tanyamu. “karena
perubahan warnanya, aku rasa. Dan, senja
menunjukkan bahwa aku semakin dekat dengan bintang di malam hari.” “ah,
bintang. Aku suka bintang. Walaupun langit gelap, bintang-bintang itu membuat
keadaan tidak segelap yang kau kira.”, ujarmu sambil memandang langit.
Matahari mulai perlahan turun. “ini senja yang aku tunggu-tunggu.” Aku menatapmu. Lalu pandangan kita bertemu. “aku telah tenggelam di mata indahmu layaknya
matahari tenggelam di depan kita. Aku
tidak ingin selamat dari sana.” Aku tersenyum.
Lalu aku melihatmu mengeluarkan sebuah kotak kecil. Sambil membuka kotak tersebut, kau berkata,”perempuan
pencinta senja, maukah kau menikmati senja selamanya di sampingku?” pada detik
itu juga, kebahagiaan tak terhingga menghujani hatiku. Aku mengangguk perlahan. Lalu kau memasangkan cincin di jari
manisku. “ini senja kita, Sayang.” Kau menutup
senja hari itu dengan sebuah kecupan lembut di keningku.
-AAz-
Aku Ingin Menjadikanmu Kenangan
Aku ingin menjadikanmu kenangan
Ketika perasaanku masih utuh walau kisah kita telah mati
Aku ingin menjadikanmu kenangan
Walau yang tersisa hanya jejakmu
Aku ingin menjadikanmu kenangan
Ketika angin yang berhembus membawa pergi cintamu
Aku ingin menjadikanmu kenangan
Yang akan selalu menghuni sudut hati ini
Aku ingin menjadikanmu kenangan
Walau ingatan tentangku telah kaubuang jauh-jauh
Aku ingin menjadikanmu kenangan
Ketika mata ini tak dapat melihat sosokmu lagi
Aku ingin menjadikanmu kenangan
Demi air mata yang masih mengalir di pipiku
Aku ingin menjadikanmu kenangan
Walau hatimu telah memilih dia
-AAz-
Sunday, 5 January 2014
Hati yang Tertinggal di Masa Lalu
Setahun sudah sejak aku dan kau berpisah. Aku mungkin hanya bisa tertawa dalam hati,
mengingat kata-kata perpisahan yang justru keluar dari bibirku. Jika mereka berkata penyesalan datang di
akhir, aku setuju dan aku membuktikannya sendiri.
Kepada kau tempat rinduku hinggap, aku mengenyahkan harga
diriku dan aku mengaku bahwa aku menginginkanmu di sini, menemaniku.
Kepada kau yang masih menjadi rumah untuk hati ini, aku
mengaku bahwa menjalani hari tanpamu tidak semudah menikmati rintik hujan di
luar sana.
Kepadamu yang pernah menampung semua luka yang kuberikan,
aku mengaku bahwa aku menyesali semuanya.
Seandainya waktu dapat diputar ke masa lalu, aku akan memilah luka-luka
itu dan menariknya kembali. Aku akan
merekam semua momen indah yang kita lewati sehingga aku dapat melihatnya
sewaktu-waktu aku merindukanmu seperti sekarang.
Maaf jika dulu aku selalu mengabaikanmu. Maaf jika dulu aku selalu membuang
mawar-mawar merah yang kauberikan. Maaf
jika dulu aku tidak menyadari betapa besarnya kesetiaanmu kepada hatiku. Maaf jika dulu aku menganggap satu
kesalahanmu dapat seketika menghapus seribu kebaikanmu.
Salahkah aku jika menginginkanmu kembali?
Jika penyesalan ini tidak cukup untuk membawamu kembali ke
pelukanku, aku bisa apa?
Salahkah aku jika aku ingin menemani setiap langkahmu,
sekali lagi?
Salahkah aku yang menginginkan kita untuk memperbaiki
semuanya dan mengulang dari awal?
Aku merindukanmu dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kau tahu, itu lebih perih dari apapun.
Jika aku harus diserang karma bertubi-tubi, aku terima asal
kau kembali berlindung pada hatiku.
Kepada kau yang selalu hadir di mimpiku, tulisan ini aku
persembahkan.
Subscribe to:
Posts (Atom)





